Saya menyimak sebuah artikel yang cukup berkesan di www.navinot.com yang memuat tentang bagaimana membuat suatu deskripsi pengantar atas produk barang dan jasa yang kita hasilkan. Deskripsi pengantar tentunya harus memberi penekanan akan merek dagang yang kita miliki dan memberikan suatu paragraf pengembangan atas slogan merek dagang kita tersebut. Kalimat-kalimat awal sambutan tersebut memperkenalkan citra dan kesan produk yang menarik masyarakat sehingga banyak orang yang akan tertarik untuk membelinya.

Deskripsi pengantar saat ini sangat marak terjadi di Indonesia. Kejadian tersebut yaitu terjadi dalam masa dalam Pemilihan Umum Calon Presiden dan Wakil Presiden. Ada tiga pasang calon presiden yang akan bertanding dengan strategi kampanye mereka masing-masing. Para pasangan calon tersebut dengan slogannya masing-masing yaitu :

Nomor urut 1 : Ibu Megawati Soekarnoputri – Pak Prabowo Subianto (Mega-Pr0)
Slogan : “Ekonomi Kerakyatan untuk Kemakmuran Rakyat”

Nomor urut 2 : Pak Susilo Bambang Yudhoyono – Pak Boediono (SBY-Boediono)
Slogan : “Pemerintahan yang bersih, Lanjutkan!”

Nomor urut 3 : Pak Jusuf Kalla – Pak Wiranto (JK-Wiranto)
Slogan : “Lebih Cepat Lebih Baik!”

Slogan kampanye diatas adalah tema dasar yang ditenkan dan dikembangkan para capres dan cawapres untuk bertarung dengan pesaing-pesaingnya dalam merebut hati rakyat Indonesia. Dalam kampanyenya para capres-cawapres mendeskripsikan pengantar kampanye mereka yaitu : *)

Mega-Pro :
“Gotong royong membangun kembali Indonesia Raya yang berdaulat, bermartabat, adil dan makmur melalui penegakan kedaulatan dan kepribadian bangsa yang bermartabat, mewujudkan kesejahteraan sosial dengan memperkuat ekonomi kerakyatan, serta melalui penyelenggaraan pemerintah yang tegas dan efektif”

SBY – Boediono :
“Terwujudnya Indonesia yang sejahtera, demokratis dan berkeadilan dengan cara melanjutkan pembangunan menuju Indonesia yang sejahtera, memperkuat pilar-pilar demokrasi, dan dengan memperkuat dimensi keadilan di segala bidang”

JK-Wiranto :
“Tercapainya Indonesia yang adil dan bermartabat melalui tercapainya ekonomi bangsa yang mandiri, mewujudkan pemerintahan yang bersih, mewujudkan kesejahteraan sosial dan budaya, mwujudkan bangsa yang aman dengan penegakan hukum dan HAM, dan mewujudkan Indonesia mewujudkan Indonesia yang dihormati dan disegani oleh bangsa-bangsa lain.

*) Dikutip dari “Pasangan Calon Beradu Strategi Kampanye”, Harian Kompas, Selasa, 2 Juni 2009. Halaman 1.

Mari kita analisis satu persatu deskripsi pengantar para pasangan capres dan cawapres Republik Indonesia 2009-2014 ini :

1. Mega-Prabowo
Mega-Pro menekankan pada penegakan kedaulatan bangsa dengan mendorong bangkitnyan ekonomi kerakyatan. Kebangkitan ekonomi kerakyatan itu dilakukan melalui pembangunan dalam buruh tani, nelayan, dan semua kekuatan produksi rakyat yang sambung menyambung membentuk satu kekuatan ekonomi rakyat. Pengantar ini sangatlah menarik dimana mayoritas rakyat Indonesia adalah golongan rakyat jelata yang bergerak di sektor informal terutama pertanian dan pada umumnya tinggal di pedesaan. Nampaknya kubu Mega-Pro mendekati kalangan yang “terpinggirkan di tengah-tengah gemerlap perekonomian Indonesia” ini untuk dapat meraih simpati dan dukungan rakyat sebanyak-banyaknya. Dengan status Megawati sebagai seorang Ibu tentunya hal ini dapat menjadi daya tarik tersendiri untuk kalangan wanita agar memilih sosok yang lebih melambangkan citra diri mereka dalam memimpin negara ini. Begitu juga sosok calon wakil presiden yaitu Prabowo dengan latar belakang militernya. Kepribadian militer yang kuat tentunya akan membuat cawapres tidak hanya terkesan sebagai ban serep presiden jika terpilih nantinya, akan tetapi mampu menunjukkan wakil presiden yang sesungguhnya. Ekonomi kerakyatan, siapa takut?

2. SBY – Boediono
SBY-Boediono sangat dikenal dengan merek dagangnya yaitu “Lanjutkan!”. Tentunya sebagai pemimpin negara saat ini, SBY mempunyai posisi yang kuat dalam meraih simpati rakyat untuk memenangi Pilpres 2009. Oleh karena itu tema kampanye SBY-Boediono tidak bisa dipisahkan dari prestasi pemerintah yang sedang berjalan ini dari tahun 2004-2009. Selama masa pemerintahan SBY, sangat banyak perubahan dan reformasi yang terjadi, mulai dari reformasi birokrasi di dalam struktur pemerintahan dimana sangat ditekankan perbaikan dalam akuntabilitas pemerintahan, reformasi pendidikan yaitu dengan digalakkannya 20 persen bagian dari APBN untuk anggaran pendidikan, reformasi hukum dengan didukung penuhnya Komisi Pemberantasan Korupsi dan pembentukan komisi-komisi lainnya, dan yang terakhir ini adalah kesanggupan Negara Republik Indonesia bertahan di tengah-tengah krisis perekonomian global yang melanda semua negara di atas permukaan bumi. Patut dicatat bahwa, Indonesia adalah salah satu dari 3 negara Asia yang mencatat pertumbuhan ekonomi positif 4 persen pada kuartal pertama 2009 dibanding banyak negara lainnya yang pertumbuhan ekonominya negatif seperti Singapura dan Jepang. Tentunya sejumlah prestasi nyata dan sungguh dapat dirasakan serta dilihat oleh rakyat Indonesia saat ini menjadikan posisi capres-cawapres SBY-Boediono sebagai calon terkuat untuk memenangkan Pemilihan Umum Presiden RI 2009 ini. Lanjutkan?

3. Jusuf Kalla – Wiranto
Jusuf Kalla yang lebih dikenal masyarakat luas dengan brand JK (sampai-sampai pembuat sepatu Cibaduyut membuat sepatu dengan merek ini) berpasangan dengan Wiranto dan mengusung merek dagang “Lebih Cepat Lebih Baik!”. Tentunya maksud daripada lebih cepat disini adalah perubahan positif dan struktural Indonesia ke depannya harus dilaksanakan dengan segera dan tidak boleh ditunda-tunda karena hal itu sangat diperlukan untuk keselurahan bangsa Indonesia ke depannya. JK-Wiranto menekankan pada konsep kemandirian bangsa untuk menciptakan masyarakat yang makmur dan sejahtera. Tentunya dengan latar belakang seorang usahawan, JK-Wiranto sangat menyadari kekurangan terbesar bangsa ini adalah kurangnya masyarakat mempunyai jiwa kemandirian baik dalam berwirausaha maupun bertetangga dengan negara lain. Hal ini dapat ditunjukkan dengan hal kecil dimana banyak lulusan sekolah menengah atas dan perguruan tinggi berlomba-lomba “hanya” menjadi karyawan dan tidak berani bekerja keras serta mandiri menciptakan lapangan kerja bagi orang lain. Dalam skala yang lebih luas, kita sebagai masyarakat biasa juga dapat merasakan ketergantungan Indonesia terhadap negara dan lembaga asing juta terasa baik melalui jejak IMF maupun liberalisasi perdagangan serta budaya di dalam Indonesia. Hal ini mengakibatkan bangsa kita kurang mempunyai kepribadian bangsa yang mandiri yang dapat makmur di dalam rumahnya sendiri. Oleh karena itu JK-Wiranto menekankan bahwa Indonesia harus bergerak lebih cepat di dalam era globalisasi ini agar dapat mandiri dan mempertahankan bangsanya di dalam arus liberalisme yang sangat kuat, karena hal itu tentunya baik untuk bangsa Indonesia. Lebih cepat lebih baik?